Showing posts with label obat. Show all posts
Showing posts with label obat. Show all posts

Sunday, September 7, 2014

1. Tujuan Percobaan

Tujuan percobaan ini adalah mengenal reaksi halogenasi karbonil.

2. Dasar Teori 


Golongan-golongan halogen adalah klorheksidin, yodium povidon yodium, yodoform, heksaklorofen, triklokarbon, klorksilenol, triklosan, Na hipoklorit, Ca-hipoklorit, tosilkloramida, dan kliokinol (Tjay, Tan thoan, 2001).
Yodoform bila kontak dengan tubuh melepaskan yodium secara berangsur dan yodium inilah yang diharapkan bersifat bakterisid. (Anonim, 1995).
Halogenasi alfa merupakan dasar suatu uji kimia, yang disebut uji idioform, untuk metil keton. Gugus metil dari suatu meti keton di iodinasi bertahap sampai terbentuk iodoform (CHI3) padat berwarna kuning. Brom dan klor juga bereaksi dengan metil keton menghasilkan bromoform dan kloroform. Istilah umum untuk menyebut CHX3 ialah haloform, maka reaksi ini sering disebut reaksi haloform. Karena bromoform dan kloroform merupakan cairan yang tidak mencolok, maka pembentukannya tak berguna untuk reaksi uji. Namun, reaksi antara suatu metil keton dengan setiap halogen tersebut memberikan suatu metode pengubahan metol keton ini menjadi asam karboksilat.
(Fessenden, 1982).
Pembuatan uji yodoform pada percobaan ini menggunakan kalium iodida dan Iodium. Kalium iodida mengandung tidak kurang dari 99 % dan tidak lebih dari 101,5 % KI, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian hablur heksahedral, transparan atau tidak berwarna atau agak buram dan putih atau serbuk granul, agak higroskopik, larutan menunjukkan reaksi netral atau basa terhadap lakmus. Kalium iodida mudah larut dalam air terlebih lagi dalam air mendidih, mudah larut dalam gliserin, larut dalam etanol (Anonim, 1995).
Bahan kedua yang digunakan yaitu iodium. Iodium adalah salah satu zat bakterisid terkuat karenanya yodoform berfungsi sebagai bakterisid, hampir semua kuman patogen termasuk fungi, dan virus dimatikan oleh iodium. Begitupula spora, walaupun diperlukan waktu lebih lama, larutan 2% memerlukan 2-3 jam. Iod merupakan antiseptikum yang sangat efektif untuk kulit utuh, maka sebagai tinktur iod banyak digunakan sebelum injeksi. Efek sampingnya adalah sifatnya yang merangsang (nyeri bila digunakan pada luka terbuka) warnanya coklat dan kadang terjadi dermatitis (alergi kulit) ( Tjay, Tan Thoan, 2001).
Uji yodoform merupakan uji khas untuk senyawa metil keton. Hidrogen pada kedudukan alfa bersifat asam dan hasil penggunaannya menghasilkan anion enolat. Selanjutnya anion enolat dapat bereaksi dengan halogen menghasilkan senyawa halokarbonil untuk iodin. Reaksi sebagai berikut :
  
Karena ada penarikan elektron dari iodin yang pertama, maka setiap sisa hidrogen pada atom karbon menjadi lebih asam dan secara cepat diubah menjadi trihalometil oleh halogen dan basa. Akibat penarikan elektron dari iodin yang pertama, maka senyawa trihalo mudah dipecahkan oleh basa membentuk iodoform.. Karena iodin adalah pereaksi oksidasi maka alkohol sekunder memberi reaksi positif membentuk metil keton (Fessenden, 1982).

3. CARA PERCOBAAN

Alat yang digunakan pada percobaan kali ini adalah labu alas bulat, pemanas air, gelas arloji, gelas ukur, pendingin balik, corong gelas, kertas saring.
Bahan yang digunakan pada percobaan kali ini adalah aseton, natrium hidroksida, alkohol, kalium iodida, kaporit.

1.  Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengenal reaksi terhadap asam-asam karboksilat.

2.   Dasar Teori

Suatu asam karboksilat adalah suatu senyawa organik yang mengandung gugus karboksil, -CO2H. Gugus karboksil mengandung sebuah gugus karbonil dan sebugah gugus hidroksil. Antar-aksi dari kedua gugus ini mengakibatkan suatu kereaktifan kimia yang unik untuk asam karboksilat. Gugus karboksil bersifat polar dan tidak terintangi, maka reaksinya tidak terlalu dipengaruhi oleh sisa molekul. Sifat kimia dari asam karboksilat adalah keasamannya. Dibandingkan dengan asam mineral seperti HCl dan HNO3, asam karboksilat adalah asam lemah. Namun asam karboksilat lebih bersifat asam daripada alkohol atau fenol, terutama karena stabilisasi-resonansi anion karboksilatnya, RCO2- (Fessenden, 1986).
Banyak asam karboksilat diisolasi dari sumber alam jauh sebelum nama bersistem diperkenalkan. Mereka diberi nama lazim yang menyiratkan asalanya dan nama-nama ini bertahan. Misalnya asam metanoat, mula-mula diperoleh dengan penyulingan merusak dari semutdan disebut asam format (latin :formica,semut). Serupa pula asam asetat mula-mula diperoleh dari cuka(latin: asetum,cuka) dan asam butirat terdapat dalam mentega(latin, butyrum,mentega)(Wood,1992).
Pada ion karboksilat terjadi resonansi, contoh: pada asam format, kedua ikatan karbon-oksigen punya panjang ikatan yang berbeda. Tetapi pada garam natrium format, kedua ikatan karbon-oksigen dari ion format identik dan panjangnya di antara ikatan ganda dua dan tunggal karbon-oksigen yang normal (Suminar, 1990).
Derivat hidrokarbon dengan sebuah atom karbon ujung yang punya ikatan rangkap dengan ke oksigen dan sebuah gugus hidroksil disebut asam karboksilat, yang diturunkan dari hidrokarbon alkana punya rumus molekul umum RCO2H, yang menyatakan bahwa terdapat gugus karboksil. Kelima anggota pertama deret homolog asam karboksilat adalah
Rumus Mampat
Nama Lazim
HCO2H
CH3CO2H
CH3CH2CO2H
CH3(CH2)2CO2H
CH3CHCO2H
CH3
Asam metanoat (Asam formiat)
Asam etanoat (Asam asetat)
Asam propanoat (Asam propinat)
Asam butanoat (Asam butirat)
Asam metil propanoat (Asam isobutirat)
                                                                           (Wood, 1992).
Asam format, (L. Formica = semut). Terdapat pada semut merah (asal dari nama), lebah, jelantang dan sebagainya (juga sedikit pada urine dan peluh).
            Sifat-sifat dari asam format adalah:
Fisika   : Cairan , tidak berwarna, merusak kulit, berbau tajam, larut dalam H2O dengan sempurna.
Kimia  : Asam paling kuat dari asam-asam karboksilat, punya gugus asam dan gugus aldehida.
Reaksi-reaksi yang terjadi :
a.       Oksidasi
(1)     Dengan KMnO4, reaksi berlangsung lancar dalam lingkungan basa.

2KMnO4  +  3                         K2CO3 + NaCO3 + NaHCO3 + 2MnO2 +
                                                    H2O
(2)     Dengan pereaksi Tollens.
(3)     Dengan pereaksi Fehling.
(4)     Dengan HgO : HCOOH + HgO          H2O + CO2 + Hg
(5)     Dengan HgCl2 : HCOOH + HgCl2          CO2 + 2HCl + Hg2Cl2
b.      Penguraian
(1) HCOOH           H2 + CO2
                                         >  t.d (100,7o)
(2) HCOOH           H2O + CO
                  Dengan penarik H2O misal : H2SO4 pekat
(3) Pirolisis Natrium Format
     
   Kegunaan dari asam format diantaranya untuk koagulasi lateks        (dengan pencampuran zat asam ini latek yang diperoleh dari sadapan       pohon karet akan menggumpal sehinga mudah untuk dibawa),penyamakan              kulit,industri tekstil dan sebagai fungisida(Riawan,1990).












Saturday, July 26, 2014

Faktor yang Mempengaruhi Konsentrasi Obat dalam Tubuh

Ini adalah tulisan saya waktu masih S1, sebenarnya sih dapat tugas dari pak dosen. Daripada berlumut di laptop ada baiknya saya share di sini.. hehehe..

1.    Sifat fisiko-kimia bahan obat

Umumnya, kecepatan larut bahan aktif (misalnya dalam saluran cerna atau dalam tempat intramuskular) menentukan laju absorpsi yang juga berkaitan dengan konsentrasi obat dalam tubuh. Ini ditentukan selain oleh sifat-sifat senyawa (misalnya bentuk kristal, besarnya partikel, solvatasi), ditentukan juga oleh sifat sediaan obat (antara lain bahan pembantu yang digunakan, bahan penyalut). Pada senyawa yang sukar larut, kadang-kadang waktu yang disediakan untuk diabsorbsi tidak cukup untuk melarutkan sempurna jumlah zat yang diberikan. Walaupun demikian melalui pengecilan yang kuat (mikronisasi) dan dengan demikian memperbesar permukaan jenis, dapat dicapai peningkatkan kecepatan melarut. Senyawa yang sangat lipofil seperti Vitamin A, yang praktis tidak larut dalam air, mula-mula harus dilarutkan sebelum diabsorpsi dalam organisme. Suatu pelarutan demikian dapat terjadi dalam usus halus, khususnya dengan bantuan garam-garam asam empedu. Senyawa yang sangat lipofil dapat diabsorpsi juga bersama dengan lipid (misalnya kolesterol) sebagai kilomikron ke dalam sistem limfe. Di sini terlibat juga garam-garam asam empedu yang aktif pada permukaan.
Ukuran molekul yang sangat kecil (seperti urea) dan in-ion kecil (seperti ion Na+, K+, dan Li+) bergerak melewati membran secara cepat, seolah-olah membran itu memiliki pori. Sebaliknya, makromolekul yang sangat besar (seperti protein) tidak melewati membran sel atau melewati namun dalam jumlah yang sangat kecil. Obat-obat yang terikat kuat dengan protein bersifat sebagai makromolekul dan tidak melewati membran sel. Fenomena seperti ini sering terjadi apabila obat terikat protein plasma.

2.    Perjalanan obat lewat membran sel

Agar suatu obat dapat mencapai kerja di jaringan atau organ, obat tersebut harus melewati berbagai membran sel. Pada umumnya membran sel mempunyai struktur lipoprotein yang bertindak sebagai membran lipid semipermeabel. Perjalanan suatu obat melewati membran sel sangat dipengaruhi oleh sifat fisiko kimia seperti yang telah disebutkan di atas yaitu kelarutan molekul obat dalam lipid.

3.    Ikatan protein


Sesuai dengan struktur kimia protein, pada ikatan protein dapat terlibat ikatan ion, ikatan jembatan hidrogen, dan ikatan dipol-dipol serta interaksi hidrofob. Kemungkinan terjadinya ikatan yang berbeda-beda menjelaskan juga mengapa senyawa yang amat beragam dapat diikat pada protein. Kecuali ikatan pada reseptor, ikatan pada protein relatif tidak khas untuk senyawa-senyawa yang asing bagi tubuh, walaupun begitu, ikatan ini terjadi terutama pada tempat ikatan dengan afinitas tinggi yang jumlahnya relatif kecil.
Ikatan protein mempengaruhi intensitas kerja, lama kerja, dan eliminasi bahan obat sebagai berikut. Bagian obat yang terikat pada protein plasma tidak dapat berdifusi dan umumnya tidak mengalami biotransformasi dan eliminasi. Tanpa memperhatikan kekecualian, ini berarti bahwa hanya bentuk bebas yang mencapai tempat kerja yang sesungguhnya dan karena itu dapat berkhasiat.
Di pihak lain, bagian yang terikat merupakan bentuk cadangan yang tak aktif. Pada penurunan konsentrasi bentuk bebas (misalnya akibat biotransformasi dan eliminasi), molekul obat dibebaskan dari cadangan ini untuk mengatur kembali kesetimbangan. Apabila dalam darah terdapat beberapa obat pada waktu yang bersamaan, maka terdapat kemungkinan persaingan terhadap tempat ikatan dan dengan demikian sebaliknya terjadi pengaruh terhadap intensitas kerja dan lama kerja, terutama jika besarnya bagian yang terikat > 80%.

4.    Aliran (perfusi) darah dari saluran cerna

Aliran darah ke saluran cerna merupakan hal yang penting untuk membawa obat ke sirkulasi sistemik dan kemudian ke tempat kerja. Daerah usus diperfusi oleh pembuluh-pembuluh darah mesenteriks. Obat dilepaskan ke dalam hati melalui vena porta hepatik dan kemudian ke sirkulasi umum atau sirkulasi sistemik. Berbagai penurunan aliran darah mesentrika, seperti pada kegagalan jantung kongestif, akan menurunkan laju pemindahan obat dari saluran usus dan oleh karena itu, menurunkan laju bioavailabilitas obat serta konsentrasinya.

5.    Pengaruh usia

Pengaruh usia yang paling menonjol adalah pada bayi yang baru lahir dan orang lanjut usia. Pada bayi yang baru lahir dan terutama pada bayi prematur, kelengkapan beberapa enzim yang terlibat dalam biotransformasi masih tidak mencukupi. Hal ini menyebabkan konsentrasi obat terganggu. Misalnya glukuronil transferase baru dibentuk pada saat kelahiran, karena itu bayi baru lahir kemampuannya masih terbatas terhadap reaksi glukuronidasi. Sebaiknya pada anak-anak usia 1-8 tahun, laju biotransformasi lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Hal ini mungkin, sekurang-kurangnya sebagian, karena pada anak-anak perbandingan bobot hati terhadap bobot badan lebih besar. Pada umur lanjut, reaksi-reaksi yang bergantung pada sitokrom P-450 sering berlangsung lebih lambat, sedangkan laju reduksi atau reaksi-reaksi fase II tidak berubah. Pada usia lanjut, terjadi penurunan laju metabolisme turunan benzodiazepin klordiazepoksida dan diazepam atau antiaritmia kuinidin yang dibiotransformasi secara oksidasi. Reduksi nitrazepam sebaliknya tidak diperlambat. Selanjutnya pada orang lanjut usia, pasokan darah ke hati berkurang dan karena itu laju biotransformasi berkurang dan mempengaruhi konsentrasi obat.
Pengaruh first-pass-effect yang lebih rendah pada orang lanjut usia misalnya pada propanolol. Pada usia lanjut, ikatan protein juga menurun akibat berkurangnya konsentrasi albumin plasma. Dengan demikian, bagian bahan obat bebas meningkat dan laju biotransformasi dapat naik, konsentrasi obat pun naik. 

Saturday, October 2, 2010



Salah satu tugas mata kuliah jg ne,, tpatnya farmakokinetika.. Ampoooonnn.. mata kul ini yg bikin nilai jadi ga sedep dipandang.. susahnya naudzubillah.. Mangstab gan.. Sekedar sharing aja nih.. cekidot..

FIRST-PASS EFFECT
Untuk beberapa obat rute pemakaian mempengaruhi kecepatan metabolismenya. Sebagai contoh, obat yang diberikan parenteral, transdermal, atau inhalasi akan mempunyai kemungkinan untuk terdistribusi dalam tubuh sebelum dimetabolisme oleh hati. Sebaliknya, obat-obat yang diberikan secara oral diabsorpsi secara normal dalam duodenal dari usus halus dan ditranspor melalui pembuluh mesenterika menuju vena porta hepatik dan kemudian ke hati sebelum ke sirkulasi sistemik. Obat-obat yang dimetabolisme dalam jumlah besar oleh hati atau oleh sel-sel mukosa usus halus menunjukkan availabilitas sistemik yang jelek jika diberikan secara oral. Metabolisme secara cepat dari obat-obat yang diberikan secara oral sebelum mencapai sirkulasi umum
disebut “first pass effects” atau eliminasi presistemik (Shargel & Yu, 2005).



PETUNJUK ADANYA “FIRST-PASS EFFECTS”
Terjadinya “First-pass effect” dapat diduga apabila terdapat berkurangnya jumlah senyawa induk atau obat utuh dalam sirkulasi sistemik sesudah pemberian oral. Dalam hal demikian AUC untuk obatt-obat yang diberikan secara oral lebih kecil dari AUC obat yang sama yang diberikan secara IV. Dari percobaan pada binatang “First-pass effect” dianggap terjadi jika obat utuh didapat dalam kanul vena porta hepatik tetapi tidak terdapat dalm sirkulasi umum (Shargel & Yu, 2005).
Dengan menganggap obat stabil secara kimia dalam saluran cerna, dan obat diberikan secara oral dalam bentuk larutan untuk memastikan absorpsi sempurna maka area dibawah kurva konsentrasi obat dalam plasma (AUC) harus sama dengan AUC bila obat dengan dosis yang sama diberikan secara intravena. Oleh karena itu pengujian bioavailabilitas absolut, F, dapat menunjukkan hilangnya obat oleh hati karena terjadinya “first-pass effects”.
[AUC]0∞ oral
F =
[AUC]0∞ IV
Untuk obat-obat yang mengalami “first-pass effects”, [AUC]0∞ oral lebih kecil dibanding [AUC]0∞ IV dan F kurang dari 1. Obat seperti isoproterenol atau nitrogliserin akan mempunyai nilai F kurang dari 1, oleh karena ini mangalami “first-pass effects” yang bermakna (Shargel & Yu, 2005).

Sunday, May 9, 2010

Penyakit adalah suatu kondisi dimana terdapat keadaan tubuh yang abnormal yang menyebabkan hilangnya kondisi normal yang sehat. Ditandai secara spesifik oleh gambaran yang jelas (sebab, tanda dan gejala, perubahan morfologi dan fungsi dsb). Abnormalitas dapat bentuknya atau fungsinya atu keduanya.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi status kesehatan seseorang itu dapat berasal dari lingkungan pemukiman, lingkungan sosial, lingkungan rekreasi, lingkungan kerja. Keadaan kesehatan lingkungan di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapaat perhatian, karena menyebabkan status kesehatan masyarakat berubah seperti: Peledakan penduduk, penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, pembuangan air limbah penggunaan pestisida, masalah gizi, masalah pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat, populasi udara, abrasi pantai, penggundulan hutan dan banyak lagi permasalahan yang dapat menimbulkan satu model penyakit. Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar 19.000 juta harus benar-benar ditangani. Masalah pemukiman sangat penting diperhatikan.
Pada saat ini pembangunan di sektor perumahan sangat berkembang, karena kebutuhan yang utama bagi masyarakat. Perumahan juga harus memenuhi syarat bagi kesehatan baik ditinjau dari segi bangungan, drainase, pengadaan air bersih, pengolalaan sampah domestik uang dapat menimbulkan penyakit infeksi dan ventilasi untuk pembangunan asap dapur.
Perilaku pola makanan juga mengubah pola penyakit yang timbul di masyarakat. Gizi masyarakat yang sering menjadi topik pembicaraan kita kekurangan karbohidrat, kekurangan protein, kekurangan vitamin A dan kekurangan Iodium. Di Indonesia sebagian besar penyakit yang didapat berhubungan dengan kekurangan gizi. Ada yang kekurangan kuantitas makanan saja (Maramus), tapi seringkali juga kualitas kurang (Kwashiorkor). Sebagian besar penyakit yang didapat berhubungan dengan kekurangan gizi terutama terdapat pada anak-anak.
Industrialisasi pada saat ini akan menimbulkan masalah yang baru, kalau tidak dengan segera ditanggulangi saat ini dengan cepat. Lingkungan industri merupakan salah satu contoh lingkungan kerja. Walaupun seorang karyawan hanya menggunakan sepertiga dari waktu hariannya untuk melakukan pekerjaan di lingkungan industri, tetapi pemaparan dirinya di lingkungan itu memungkinkan timbulnya gangguan kesehatan dengan resiko trauma fisik gangguan kesehatan morbiditas, disabilitas dan mortalitas.
Dari studi yang pernah dilakukan di Amerika Serikat oleh The National Institute of Occupational Safety and Health pada tahun 1997 terungkap bahwa satu dari empat karyawan yang bekerja di lingkungan industri tersedia pada bahan beracun dan kanker. Lebih dari 20.000.000 karyawan yang bekerja di lingkungan industri setiap harinya menggarap bahan-bahan yang diketahui mempunyai resiko untuk menimbulkan kanker, penyakit paru, hipertensi dan gangguan metabolisme lain. Paling sedikit ada 390.000 kasus gangguan kefaalan yang terinduksi oleh dampak negatif lingkungan industri dan 100.000 kematian karena sebab okupasional dilaporkan setiap tahun.
Indonesia saat ini mengalami transisi dapat terlihat dari perombakan struktur ekonomi menuju ekonomi industri, pertambahan jumlah penduduk, urbanisasi yang meningkatkan jumlahnya, maka berubahlah beberapa indikator kesehatan seperti penurunan angka kematian ibu, meningkatnya angka harapan hidup ( 63 tahun ) dan status gizi. Jumlah penduduk terus bertambah, cara bercocok tanam tradisional tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Dengan kemampuan daya pikir manusia, maka manusia mulai menemukan mesin-mesin yang dapat bekerja lebih cepat dan efisien si dari tenaga manusia. Peristiwa ini mulai dikenal dengan penemuan mesin uap oleh James Waat. Fase industri ini menimbulkan dampak yang sangat menyolok selain kemakmuran yang diperoleh juga eksploitasi tenaga kerja, kecelakaan kerja, pencemaran lingkungan, penyakit, wabah.
Pencemaran udara yang disebabkan industri dapat menimbulkan asphyxia dimana darah kekurangan oksigen dan tidak mampu melepas CO2 disebabkan gas beracun besar konsentrasinya di dalam atmosfir seperti CO2, H2S, CO, NH3, dan CH4. Kekurangan ini bersifat akurat dan keracunan bersifat sistemik penyebab adalah timah hitam, cadmium, flour, dan insektisida.
Pengaruh air terhadap kesehatan dapat menyebabkan penyakit menular dan tidak menular. Perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah. Lingkungan berpengaruh pada terjadinya penyakit penyakit umpama penyakit malaria karena udara jelek dan tinggal disekitar rawa-rawa. Orang beranggapan bahwa penyakit malaria terjadi karena tinggal pada rawa-rawa padahal nyamuk yang bersarang di rawa menyebabkan penyakit malaria. Dipandang dari segi lingkungan kesehatan, penyakit terjadi karena interaksi antara manusia dan lingkungan.

Penyebab penyakit dapat dibagi dalam dua faktor, yaitu:

a. Faktor ekstrinsik 

Yaitu penyebab penyakit yang terdapat di luar tubuh manusia yang dapat menyerang perorangan dan masyarakat. Faktor-faktor ekstrinsik itu dapat berupa agen yang menular, trauma mekanis, zat-zat kimia yang beracun, radiasi, suhu yang ekstrem, masalah gizi dan ketegangan psikologis. Faktor ekstrinsik dapat dibagi 3 yaitu
Yang nyata dan hidup

Penyebab penyakit ini sering disebut bibit penyakit, berupa bakteri, virus rickettsia, jamur, protozoa, cacing, dan sebagainya
Yang nyata tak hidup
Zat-zat kimia: racun, asam atau alkali kuat, logam, dan sebagainya.
Trauma (ruda paksa)
- Trauma elektrik: kena arus listrik
- Trauma mekanik: terpukul, tertabrak
- Trauma thermik: terbakar
Makanan: kekurangan beberapa zat makanan seperti protein, vitamin, atau kekurangan makanan secara keseluruhan (kelaparan).
Yang abstrak
Bidang ekonomi: kemiskinan.
Bidang sosial: sifat antisosial. Sifat antisosial adalah sifat orang yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga seringkali melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan hukum-hukum yang berlaku dalam masyarakat. Orang demikian biasanya dibenci masyarakat.
Bidang mental (kejiwaan): kesusahan, rasa cemas, dan rasa takut.
Lingkungan
Faktor lingkungan yang mempengaruhi status kesehatan seseorang dapat berasal dari lingkungan pemukiman, lingkungan sosial, lingkungan rekreasi, lingkungan kerja. Keadaan kesehatan lingkungan di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapaat perhatian, karena menyebabkan status kesehatan masyarakat berubah seperti: Peledakan penduduk, penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, pembuangan air limbah penggunaan pestisida, masalah gizi, masalah pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat, populasi udara, abrasi pantai, penggundulan hutan dan banyak lagi permasalahan yang dapat menimbulkan satu model penyakit.

b. Faktor intrinsik

Yaitu penyebab penyakit yang terdapat di dalam tubuh manusia yang dapat menyerang perorangan dan masyarakat, misalnya umur, jenis kelamin, kelainan-kelainan yang didapat dalam penyakit sebelumnya, keadaan genetik. Penyebab penyakit faktor intrinsik terdiri atas kompleks sifat seseorang yang dasarnya sudah ditentukan sejak lahir, yang memudahkan timbulnya penyakit-penyakit tertentu. Yang termasuk ke dalam faktor-faktor ini adalah sebagai berikut.
Habitus (perawakan) misalnya habitus asthenicus yaitu perawakan yang tinggi, kurus, dan berdada sempit dikatakan mudah terserang penyakit tuberculosa.
Penyakit-penyakit turunan, misalnya asthma, buta warna, haemophili.
Faktor usia: daya tahan tubuh pada bayi, anak-anak, orang dewasa, dan pada usia lanjut berbeda-beda.


Kaitan antara faktor ekstrinsik dan intrinsik penyakit adalah sebagai berikut. Proses terjadinya penyakit merupakan hasil interaksi antara:
- agen (faktor penyebab penyakit);
- manusia sebagai penjamu atau host; dan
- faktor lingkungan/environment yang mendukung.
Ketiganya dinamakan Trias Penyebab Penyakit. Dalam hal ini, host biasanya dikenal juga dengan faktor intrinsik, sedangkan faktor lingkungan termasuk ke dalam faktor ekstrinsik. Penyakit disebabkan adanya interaksi antara agen penyebab penyakit dengan manusia yang rentan dan didukung oleh keadaan lingkungan yang sesuai.

-->
Kira2 bisa mmbantu kalian mnjwab soal latian..
mf klo jawabnnya kurang ya..hahaha...

1. Sebutkan indikasi dari obat-obat berikut:
a. Bactroban
b. Metronidazole
c. Verapamil
d. Cardura
e. Aldomet
2. Cari mekanisme dari obat-obat berikut yang dapat menyebabkan penyakit di bawah ini.
a. Antikolinergik menyebabkan ileus meconium
b. Carbamazepin menyebabkan defek tuba neuralis
c. Warfarin menyebabkan Dandy-walker Syndrome
d. AINS menyebabkan PDA 

Jawab
1. Indikasi dari obat-obat berikut adalah
a. Bactroban (Mupirocin)
Indikasi : Dermatosis alergi dan inflamasi, psoriasis
b. Metronidazole
Indikasi :
ü Trikomoniasis, seperti vaginitis dan uretritis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.
ü Amebiasis, seperti amebiasis intestinal dan amebiasis hepatic yang disebabkan oleh E. histolytica.
ü Sebagai obat pilihan untuk giardiasis.
c. Verapamil
Indikasi: Hipertensi, angina pektoris, takiaritmia supraventrikular.
d. Cardura
Indikasi: Nyeri otot, nyeri sendi, hipertensi, hiperplasia prostat jinak.
e. Aldomet
Indikasi: Hipertensi
2. Mekanisme obat yang menyebabkan penyakit, sebagai berikut.
a. Antikolinergik menyebabkan ileus meconium
Ileus meconium adalah obstruksi pada ileum terminal yang disebabkan oleh konsistensi mekonium yang abnormal dimana mekonium menjadi tebal, viscous, kering dan keras. Mekonium ini memiliki kadar air yang berkurang sebagai hasil dari penurunan aktivitas dari enzim pankreas dan perpanjangan waktu transit usus halus. Biasanya tampak pada neonatus dengan Cystic fibrosis (10-20%). Mekonium ileus meliputi lebih dari 33% dari obstruksi usus halus pada neonatus. Sekitar 50% dari kasus merupakan komplikasi dari malrotasi, atresia intestinal, atau perforasi.
Antikolinergik yang dimaksud dapat menyebabkan ileus meconium adalah zat-zat amonium kuartener seperti propantelin. Senyawa-senyawa ini mengandung atom N bervalensi 5, bersifat basa kuat dan terionisasi dengan baik sehingga suka melintasi membran sel. Oleh karena itu, reabsorpsinya dari usus buruk dan tidak dapat memasuki cairan cerebrospinal, maka tidak memiliki kerja sentral. Antikolinergik dapat mengakibatkan relaksasi otot GI halus dan volume berkurang dan keasaman sekresi GI. Penggunaanya untuk menekan peristaltik dan mengurangi sekresi getah lambung dalam sediaan tukak lambung-usus.
b. Carbamazepin menyebabkan defek tuba neuralis
Penyebab defek tuba neuralis belum diketahui pasti; beberapa faktor penyebab antara lain : radiasi, obat-obatan, malnutrisi, bahan-bahan kimia, genetik.
Defek tuba neuralis disebabkan oleh kurangnya asam folat pada minggu-minggu pertama kehamilan. Selain itu, carbamazepin juga berpotensi menyebabkan DTN. Antiepileptika dapat menyebabkan gangguan kongenital yang 2-3 kali lebih besar daripada keadaan normal, khususnya carbamazepin. Efek teratogen ini ditimbulkan oleh toksisitas langsung terhadap sel-sel janin dan juga karena defisiensi asam folat. Penyebabnya adalah karena di satu pihak, obat ini menghambat denga kuar resorpsi asam folat dan di lain pihak meningkatkan ekskresinya karena induksi di hati.
Jika carbamazepine digunakan selama kehamilan, atau jika pasien menjadi hamil saat menerima obat, pasien harus diberitahu tentang potensi bahaya pada janin. Tes untuk mendeteksi kelainan janin dengan menggunakan prosedur yang berlaku saat ini harus dipertimbangkan ke dalam bagian perawatan rutin pada wanita melahirkan anak yang menerima carbamazepine potensial.
c. Warfarin menyebabkan Dandy-Walker Syndrome
Warfarin umumnya dianggap kontraindikasi selama kehamilan, meskipun obat telah digunakan pada wanita hamil tertentu (misalnya, mereka yang mekanik katup jantung prostetik) dianggap beresiko tinggi untuk thrombosis. Potensi risiko terapi warfarin untuk janin termasuk pendarahan dan teratogenicity janin atau perdarahan intrauterin neonatal dan kematian telah terjadi, bahkan ketika dalam rentang terapeutik yang berlaku umum. Senyawa warfarin memiliki BM rendah, mudah menembus plasenta dan menimbulkan efek teratogenik dan efek janin yang cukup signifikan. Ditaksir bahwa satu dari enam kehamilan yang terpajan obat ini menyebabkan neonatus hidup cacat dan satu dari enam menyebabkan abortus atau lahir mati. Struktur hipoplasia hidung dan kelainan lainnya (misalnya, epiphyses dibintiki) konsisten dengan diagnosis punctata chondrodysplasia jarang terjadi pada anak-anak yang ibunya menerima warfarin selama trimester pertama kehamilan.Selama trimester kedua dan ketiga, cacat yang berkaitan dengan pajanan janin terhadap warfarin lebih besar kemungkinannya disebabkan oleh perdarahan dan jaringan parut yang dapat menyebabkan Dandy-Walker Syndrome, agenesis korpus kalosum, atrofi serebelum.
Dandy-walker syndrome adalah malformasi bawaan sejak lahir (kongenital) dari cerebellum (suatu bagian belakang otak yang mengendalikan gerak) dan daerah sekitarnya yang dipenuhi oleh cairan. Ciri utama dari sindrom ini adalah pembengkakan dari ventrikel keempat (channel kecil yang mengalirkan cairan dengan bebas antara bagian atas dan bawah dari otak dan spinal cord), tidak adanya sebagian atau seluruh cerebellar vermis (bagian antara kedua hemisphere cerebellar) dan pembentukan kista (cyst) di dekat bagian bawah tengkorak. Pembesaran ruang cairan disekitar otak dan meningkatnya tekanan dalam otak juga mungkin terjadi. Sindrom ini bisa muncul secara dramatis atau berkembang tanpa terdeteksi.
a. AINS menyebabkan PDA
Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Paten (DAP) adalah kelainan jantung kongenital (bawaan) dimana tidak terdapat penutupan (patensi) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta dan pembuluh darah besar pulmonal setelah 2 bulan pasca kelahiran bayi. Biasanya duktus arteriosus akan menutup secara normal dalam waktu 2 bulan dan meninggalkan suatu jaringan ikat yang dikenal sebagai ligamentum arteriosum. PDA dapat merupakan kelainan yang berdiri sendiri (isolated), atau disertai kelainan jantung lain.
Dengan dasar mekanisme kerja AINS yaitu menghambat sintesis prostaglandin, efek samping obat-obat antiinflamasi non-steroid kemungkinan lebih sering terjadi pada trimester akhir kehamilan. Dengan terhambatnya sintesis prostaglandin, pada janin akan terjadi penutupan duktus arteriosus Botalli yang terlalu dini, sehingga bayi yang dilahirkan akan menderita hipertensi pulmonal. Pemberian obat-obat tersebut selama kehamilan hendaknya atas indikasi yang ketat disertai beberapa pertimbangan pemilihan jenis obat. Pertimbangan ini misalnya dengan memilih obat yang mempunyai waktu paruh paling singkat, dengan risiko efek samping yang paling ringan.